MSM West Midlands

Unity beyond borders

Smile and Keep Smiling ^_^ January 1, 2011

Filed under: Uncategorized — msmwestmidlands @ 2:37 am

Jarir bin ‘Abdullah al-Bajali said, “The Messenger of Allah SAW never saw me except that he smiled at me”.

Smiling is of various types and of different levels.

One type is to be constantly cheerful, where your face is always bright with joy. If you are a teacher and enter the classroom to see your students, meet them with a cheerful face. If you board a plane and walk through the isle as people look at you, be cheerful. If you enter a grocery store or a petrol station, smile as you pay. If you are in gathering and there enters a man who greets those sitting with loud voice and gazes at them, smile. If you meet a group of people and shake their hands, smile.

Smiling plays an important role in suppressing anger and doubt like nothing else does. A brave man is he who is able to control his emotions and smile in the darkest of moments.

One day, Anas bin Malik (may Allah be pleased with him) was walking with the Prophet SAW. The Prophet SAW was wearing a Najrani mantle with rough edging. There came a Bedouin running behind the Prophet SAW, wanting to catch up with him. When he got close to the Prophet, he pulled him aggressively by his mantle, such that the mantle rubbed hard against his neck.

Anas said, “I looked at the Prophet’s neck and noticed a mark due to the edge of his mantle being so roughly pulled across his neck”.

So what exactly did the man want? Was his house burning down and wanted a help? Had the pagans attacked his people, and he turned to the Prophet SAW horrified, seeking his aid?

Read what he exactly wanted…

He said, “O Muhammad!” (Note that he did not say, “O Messenger of Allah.”) Rather he said, “O Muhammad! Give me some of the wealth that Allah has given you!”

The Prophet SAW turned around, smiled, and ordered that he be given something.

Yes, he was heroic-he was one who would not be agitated by such behaviour, nor would be punishing people over brainless actions. He was easygoing and strong enough to maintain his composure. He was always smiling, even in darkest of moments. He would consider the consequences before performing any action. What would the benefit have been to have shouted at the man and driven hi away? Would that have made his neck feel better? Would it have corrected the man’s manner? Never! It would have had the same effect as patience and forbearance.

Sometimes we become excited and angry over issues that deserve a different approach. We should treat such issues with gentleness, leniency, and smiling. We ought to think good of others, quash our fury and, ultimately, earn people’s pleasure.

The Prophet SAW was certainly correct when he said,” The strong man is not the one who is best at wrestling. Rather, the strong person is the one who controls himself when angry.”

The noble Prophet SAW would attract people merely by smiling and be cheerful. The Muslims marched out on the expediton of Khaybar, and during the battle, a sack full of fat dropped out of the Jews’ fortress. ‘Abdullah bin Mughaffal collected it, carried it on his back quite happily and made his way to his companions.

On his way, the man responsible for collecting and organising the booty met him and started to pull the sack from him, saying, “Give it to me! This is to be distributed amongst the Muslims!”

‘Abdullah held tight to it and said, “By Allah! I will not give it to you! I got it first!”

The man replied, “You will give it to me!” The two of them started pulling on the sack, and while they were doing so, the Messenger of Allah passed by them. When the Prophet SAW saw them as they were pulling the sack, he laughed and said to the man responsible for the booty, “Leave him alone with the sack.” Thus, the man left it in ‘Abdullah’s hands.

‘Abdullah took it to his companions and they ate it all together.

Finally, remember that to smile in your brother’s face is an act of charity.

[Enjoy Your Life by Dr Muhammad ‘Abd Al-Rahman Al-‘Arifi]

 

‘Sixth Sense’ Seorang Mu’min December 10, 2010

Filed under: motivasi,Sharing,Wisdom for the Wise — msmwestmidlands @ 6:28 pm

Oleh: Ustaz Mohd Shahman Md. Azmi (Senior Consultant Futuwwah Enterprise)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. “Demi Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya, (terkadang) aku tidur di atas tanah dengan perut lapar dan (terkadang) aku ikatkan sebuah batu ke perutku untuk menahan lapar. Suatu hari aku duduk di jalan yang biasa dilalui mereka (Nabi S.A.W dan para sahabatnya). Ketika Abu Bakar lewat (melintasi), aku memintanya membacakan untukku sebuah ayat Al-Quran dan aku memintanya hanya dengan maksud barangkali dia dapat menghilangkan rasa laparku, tetapi dia lewat begitu sahaja.

Kemudian Umar lewat di depanku dan aku memintanya membacakan sebuh ayat dari kitab Allah, dan aku memintanya hanya dengan maksud barangkali dia dapat menghilangkan rasa laparku, tetapi dia lewat begitu sahaja. Akhirnya Abul Qasim (Nabi S.A.W.) lewat dan dia tersenyum ketika melihatku kerana dia tahu maksudku hanya dengan melihat wajahku. Nabi S.A.W bersabda: “Wahai Aba Hirr!”. Aku menjawab: “Labbaik,  ya Rasulullah!”. Nabi bersabda kepadaku: “Ikuti aku”. Nabi S.A.W. pergi dan aku berjalan di belakangnya, mengikutinya.

Kemudian Nabi S.A.W. masuk ke dalam rumahnya dan aku meminta izin masuk ke dalam rumahnya dan diizinkan. Nabi S.A.W. melihat semangkuk susu dan berkata: “Dari mana ini?”. Mereka berkata: “Itu hadiah dari si Fulan untukmu”. Nabi S.A.W. bersabda: “Wahai Aba Hirr!”. Aku berkata: “Labbaik , ya Rasulullah!”. Nabi S.A.W. bersabda: “Pangillah orang-orang Shuffah” . Orang-orag Shuffah adalah tamu-tamu Islam yang tidak memiliki keluarga, wang atau seseorang yang dapat mereka mintai pertolongan dan setiap kali objek sedekah (sesuatu yang diberikan dengan kemurahan hati) diberikan kepada Nabi S.A.W., Nabi akan memberikannya kepada mereka sedangkan Nabi S.A.W sendiri sama sekali tidak menyentuhnya. Dan setiap kali hadiah apa pun diberikan kepada Nabi S.A.W., Nabi akan memberikannya sebahagian untuk mereka dan sebahagian untuk diri Nabi S.A.W.

Perintah Nabi S.A.W. itu membuatku kecewa dan aku berkata kepada diriku sendiri: “Bagaimana mungkin susu semangkuk cukup untuk orang-orang Shuffah”. Menurutku susu itu hanya cukup untuk diriku sendiri. Nabi S.A.W. menyuruhku memberikan susu itu kepada mereka. Aku akan takjub seandainya masih ada sisa untukku. Tetapi bagaimanapun aku harus taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Maka aku pergi menemui orang-orang Shuffah tiu dan memanggil mereka. Merekapun berdatangan dan meminta izin masuk rumah. Nabi S.A.W. memberi mereka izin. Mereka duduk di dalam rumah itu. Nabi S.A.W. bersabda: “Wahai Aba Hirr!”. Aku berkata: “Labbaik, ya Rasulullah!”. Nabi S.A.W. bersabda: “Bawalah susu ini dan berikan kepada mereka”. Maka aku membawa semangkuk susu itu kepada mereka satu persatu dan setiap mereka mengembalikannya kepadaku setelah meminumnya, mangkuk susu itu tetap penuh.

Setelah mereka semua selesai minum dari mangkuk susu itu, aku memberikannya kepada Nabi S.A.W. yang memegang mangkuk susu itu seraya tersenyum jenaka dan berkata kepadaku: “Wahai Aba Hirr!”. Aku menjawab: “Labbaik, ya Rasulullah!”. Nabi S.A.W. bersabda: “Masih cukup untuk engkau dan aku”. Aku berkata: “Engkau berkata benar ya Rasulullah!”. Nabi S.A.W. bersabda: “Duduklah dan minumlah”. Aku duduk dan meminumnya. Nabi S.A.W.  berkali-kali memintaku untuk meminumnya hingga aku berkata: “Tidak, demi Zat yang mengutusmu sebagai pembawa kebenaran, perutku sudah sangat kenyang”. Nabi S.A.W. bersabda: “Berikan kepadaku”. Ketika kuberikan mangkuk itu kepadannya, Nabi S.A.W. memuji dan menyebut nama Allah dan meminum sisa susu itu.

[Hadith Riwayat Al-Bukhari]

Saudaraku, sebenarnya terlalu banyak ibrah yang dapat kita kutip dari hadis yang panjang lebar di atas. Cuma, untuk kali ini, cukuplah kita fokuskan kepada sifat Rasulullah yang begitu “empati” terhadap para sahabat. InsyaAllah, jika diizinkan, kita gali ibrah-ibrah lain dalam hadis di atas pada kesempatan yang lain.

Saudaraku, betapa, orang Mukmin itu hubungannya cukup istimewa. Dalam hadis yang lain Nabi S.A.W. pernah bersabda:

“Seorang Muslim dengan Muslim yang lain adalah bersaudara, dia tidak menzaliminya dan tidak mengelakkan diri daripada menolongnya, sesiapa yang melepaskan saudaranya daripada sesuatu kesempitan, maka Allah akan melepaskan satu kesempitan daripada kesempitan-kesempitan hari kiamat, dan sesiapa yang menutup (keaiban) saudaranya, maka Allah akan melindunginya pada hari kiamat”

(Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Bahkan Rasulullah juga pernah mengibaratkan orang mukmin itu umpama satu tubuh. Seandainya satu bahagian tubuh sakit, maka bahagain yang lain turut merasakannya:

“Bandingan golongan mukminin di dalam kasih-sayang, simpati dan tolong menolong antara satu sama lain seperti satu jasad. Sekiranya satu anggota mengadu kesakitan, maka seluruh anggota akan berjaga malam dan demam panas”
(Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Justeru Saudaraku, marilah kita cuba contohi sikap Rasulullah yang sepertimana ugkapan Abu Hurairah di dalam hadis di atas “Akhirnya Abul Qasim (Nabi S.A.W.) lewat dan dia tersenyum ketika melihatku kerana dia tahu maksudku hanya dengan melihat wajahku”. Betapa, Nabi begitu memahami sahabat baginda sehinggakan dengan melihat riak wajah muka sahaja baginda mengetahui kondisi sang sahabat tersebut. Rasulullah seolah-olah menpunyai “Sixth Sense”-deria keenam yang dapat mengetahui keadaan para sahabat dengan melihat riak wajah mereka.

Di dalam Al-Quran Allah berfriman:

“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui” (Al-Baqarah: 273)

Dalam ayat di atas, Allah berfirman bahawa “...kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya…” maka saudaraku, takkanlah jika kita lihat sahabat kita yang selalu ceria, tiba-tiba murung, kita katakan tidak ada apa-apa yang berlaku padanya. Bagaimana mungkin kita sampai “gagal” untuk meng “sense” perubahan dirinya? Samaada kita tak peka atau sememangnya sahabat kita pandai “mengcover”  apa yang terjadi padanya? Orang mukmin itu jika boleh diibaratkan, mempunyai “telepathy[1]yang boleh berkomunikasi tanpa perlu berkata-kata.

It’s amazing how you can speak right to my heart
Without saying a word you can light up the dark
Try as I may I can never explain
What I hear when you don’t say a thing

The smile on your face let’s me know that you need me
There’s a truth in your eyes saying you’ll never leave me
The touch of your hand says you’ll catch me wherever I fall
You say it best, when you say nothing at all

All day long I can hear people talking out loud
But when you hold me near
You drown out the crowd
Try as they may, they can never defy
What’s been said between your heart and mine

The smile on your face let me know that you need me
There’s a truth in your eyes saying you’ll never leave me
The touch of your hand says you’ll catch me wherever I fall
You say it best, when you say nothing at all

Oh, the smile on your face let’s I know that you need me
There’s a truth in your eyes saying you’ll never leave me
The touch of your hand says you’ll catch me wherever I fall
You say it best, when you say nothing at all [2]

Ya, mungkin sukar. Tapi ianya perlu kepada perlatihan, kepedulian serta kepekaan yang tinggi. Ianya tidak mustahil! Rasul yang mulia telah tunjukkan.Juga ibrah dalam ayat di atas, menunjukkan bahawa sifat-sifat seorang mukmin itu adalah mereka “memelihara diri dari meminta-minta” sepertimana sikap Abu Hurairah di dalam hadis tersebut. Makna kata mereka tidak mengambil kesempatan di atas “kefakiran” mereka. Tetapi, dalam masa yang sama sang saudara/sahabatnya mampu “membaca” kesusahan yang dialami saudaranya yang lain dan berusaha membantunya. Betapa indahnya Islam dimana di satu pihak tidak meminta-minta (tidak ambil kesempatan) dan di satu pihak yang lain “concern” –ambil peduli tentang kesusahan yang melanda sahabtanya.

Saudaraku, nasihat buat saya –terutamanya- dan juga kalian, moga kita lebih peka terhadap saudara di sekeliling kita. Mudah-mudahan manisnya ukhuwwah itu dapat kita kecapi.

Nota Penghujung:

[1] Telepathy: Apparent communication from one mind to another without using sensory perceptions.

[2] Dipetik dari lagu “When You Say Nothing At All oleh Ronan Keating

Rujukan: http://www.futuwwah.com

 

Mencari Keberkatan Masa December 9, 2010

Filed under: motivasi,Wisdom for the Wise — msmwestmidlands @ 4:28 pm

Oleh: Prof. Madya Dr. Mohd Asri Zainul Abidin

Menjelang tahun baru, ramai yang menyambutnya. Samada hari pertama Januari ataupun Muharram, Islam tidak pernah menetapkan sambutan khusus buat tahun baru.

Tiada ibadat khas sempena tahun baru seperti solat tahun baru, atau puasa tahun baru. Ya, tidak menjadi masalah jika manusia ingin menyiapkan diri mereka menghadapi tahun baru. Mungkin mereka ingin menetapkkan sasaran, perancangan dan idaman.

Jika perancangan itu untuk kebaikan, seseorang akan memperolehi pahala. Begitulah sebaliknya. Jika tahun baru tidak datang pun, waktu dan hari tetap terus berputar dan tiada bezanya antara tahun lepas dan tahun ini. Ia terus berjalan seperti biasa sehingga sampai detik ia berhenti.

Umur setiap kita akan terus bertambah, samada menjelang tahun baru ataupun tidak. Jika tidak bertambah tahun, ia bertambah bulan. Jika tidak bertambah bulan, ia bertambah hari. Jika tidak bertambah hari, ia bertambah jam dan minit dan akan terus meningkat ke hari, bulan dan tahun.

Sementara perhentian iaitu kematian, tidak pula kita tahu waktunya yang tepat. Namun yang pasti apabila ia sampai, tidak dilewatkan walaupun sesaat jua. Kita hamba Tuhan di persada masa.

Ya, hari dan waktu akan terus datang dan pergi. Jika jam, matahari dan bulan berhenti, masa tetap berjalan. Tiada makhluk yang dapat menghalang kedatangan waktu dan hari. Demikian tiada siapa pun yang dapat menahan ia pergi. Samada manusia menunggu untuk menyambut kedatangannya atau tidak mempedulikannya, ia tetap menjelang.

Demikian juga, waktu dan hari akan terus pergi sekalipun kita menyayanginya dan mengharapkan ia terus tunggu. Entah berapa banyak diari yang dicatatkan, entah berapa banyak sanjungan yang diberikan, entah berapa banyak kejian yang dilontarkan, dengan berlalunya waktu, ia menjadi sejarah dan kenangan.

Maka, entah berapa ramai manusia yang dipuji semalamnya, dilupai pada hari ini. Entah berapa ramai yang diperlekehkan semalam, disanjung pula pada hari ini. Berapa ramai mereka yang bongkak dan sombong semalam, hari ini berbicara bagaikan pengemis yang merintih simpati.

Demikian juga, entah berapa ramai yang diketepikan semalam, mungkin berkuasa atau diangkat pada hari ini. Wajah-wajah yang dahulunya comel dan cantik boleh berubah menjadi kusam dan masam. Tempat yang hening dan indah juga boleh bertukar menjadi sungul dan usang. Pemuda yang gagah akan bertukar menjadi orang tua yang mengah. Gadis yang cantek akan bertukar menjadi nenek. Perjalanan waktu dan masa adalah keajaiban ciptaan Tuhan.

Ramai orang lupa bahawa masa itu adalah makhluk Allah. Kita diciptakan dan diletakkan dalam perjalanan makhluk masa ini. Masa itu tiada siapa yang dapat menongkah pusingannya. Ia merubah segala-gala. Dari yang tiada kepada ada. Dari yang ada kepada tiada. Tiada siapa yang mampu menghalangnya melainkan Tuhan yang menciptakannya. Masa mengubah kita. Mengubah anggapan manusia sesama mereka. Ia mengubah perasaan dan rasa. Ia mengubah benci dan cinta. Ia mengubah gembira dan duka.

Namun waktu tidak boleh mengubah hakikat sesuatu di sisi Allah. Di sisi Allah, insan yang mulia tetap mulia walaupun manusia menghinanya. Insan yang keji tetap keji, walaupun manusia memberikannya kuasa dan harta. Seorang raja atau sultan yang meraikan harijadi setiap kali menjelang musimnya dengan menganugerahkan darjat dan pangkat kepada orang lain, belum tentu dia sendiri mendapat darjat dan pangkat yang tinggi di sisi Allah.

Mungkin belanja hari jadinya itu akan menjadi beban kepadanya pada hari akhirat kelak; dari mana wang itu datang dan bagaimana ia digunakan?! Seorang miskin di ceruk yang terpencil, mungkin tiada siapa yang mengambil tahu hari lahirnya dan tiada pula anugerah atau hadiah yang diperolehi.

Namun, itu bukan tanda kehinaan buatnya. Bahkan jika dia hamba Allah yang baik, umurnya dan waktunya dilimpahi pahala dan keberkatan. Ya, waktu dan masa akan terus menjelang, mengejar sang raja, juga mengejar si miskin yang tiada apa-apa. Mengejar kita semua untuk sampai ke perhentian masing-masing. Pabila sampai ke detik penghabisan, kita bertemu Tuhan. Ketika itu yang dinilai adalah hakikat yang sebenar, antara insan yang beruntung dan insan yang rugi.

Untuk itu Allah bersumpah dengan masa dan mengingatkan kita, siapa yang untung dan siapa yang rugi. Firman Allah dalam Surah al-‘Asr: (maksudnya)

“Demi Masa! Sesungguhnya insan itu dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh, serta mereka pula berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan sabar”. (Surah al-‘Asr 1-3).

Demikian Tuhan Pencipta masa memutuskan bahawa insan yang hidup dalam sistem masa ini akan kerugian. Apa yang dapat menyelamatkan mereka adalah apabila mereka penuhi ciri-ciri yang disebutkan; iman, amal soleh dan berpesan-pesan kepada kebenaran dan kesabaran.

Ertinya, hidup bukan sekadar beriman dan beramal, tetapi hendaklah memperjuangkan tuntutan iman dan amal dengan melakukan peringatan, dakwah, seruan kepada kebenaran dan kesabaran. Kebenaran yang diajar oleh Allah dan rasulNya dan sabar dalam membahterai perjuangan kebenaran itu.

Jika sebahagian pengkaji cuba memahami dan membuktikan apa yang disebut oleh Albert Einstein dan Newton tentang teori relatif masa (relativity of time), Islam pula telah lama memperkatakan tentang keberkatan umur dan waktu. Mereka yang meterialis barangkali tidak dapat berfikir bagaimana mungkin masa seseorang insan dengan seorang yang lain berbeza. Bagaimana mungkin sejam si A lebih panjang daripada sejam si B?. Mereka kehairanan dan pemikiran materialistik memang tidak dapat menerima hal ini.

Dalam Islam ada istilah berkat atau barakah. Al-Quran berulang-ulang menyebut tentang keberkatan. Antaranya firman : (maksudnya)

“Sekiranya penduduk negeri itu, beriman serta bertaqwa, tentulah Kami akan membuka kepada mereka keberkatan-keberkatan dari langit dan bumi”. (Surah al-A’raf, 96).

Allah perintahkan Nabi Nuh: (maksudnya)

“Dan berdoalah: Wahai Tuhanku, Turunkanlah daku di tempat turun yang berkat, dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat”. (Surah al-Mukminun 29).

Kata Nabi Isa: (maksudnya)

“Allah menjadikan aku ini diberkati di mana sahaja aku berada..” (Surah Maryam, 31).

Apakah itu berkat atau barakah dalam bahasa Arab? Asal perkataan barakah ialah bertambah atau berkembang. Juga boleh bermaksud berkekalan. Al-Asfahani (meninggal 425H) menyatakan ia bermaksud kelangsungan kebaikan ilahi kepada sesuatu. (Al-Asfahani, Mufradat Alfaz al-Quran m.s 119, Damsyik: Dar al-Qalam).

Maka barakah adalah penambahan atau kelangsung kebaikan atau kurniaan Allah kepada sesuatu. Jika Allah berkati masa kita bererti berlaku penambahan dan kebaikan. Maka sejam yang diberkati tentu berbeza dengan sejam yang tidak diberkati. Setahun yang diberkati tentu berbeza dengan setahun yang tidak diberkati. Insan-insan yang berkhidmat untuk kemaslahatan manusia, Allah berkati umur mereka. Hasil yang dikeluarkan dan jasa ditaburkan kadang-kala tidak dapat dilakukan oleh orang lain walaupun jika berikan masa yang berganda.

Kita tidak boleh mengubah masa, tetapi kita boleh menjadi masa itu berkat dengan doa dan usaha-usaha yang ikhlas dan baik. Untuk merentasi kehidupan dan belantara masa banyak perkara kita tidak dapat duga. Kita mungkin merancang dengan perancangan yang hebat, tapi siapa yang dapat menjamin ia akan terjadi seperti yang dirancangkan.

Berapa banyak rancangan buruk orang kepada kita, Allah tukar ia menjadi keuntungan dan kebaikan. Betapa banyak rancangan yang hebat, Allah tukar ia menjadi kerdil.

Dunia ini bukan kita sahaja yang hidup. Berbagai rupa dugaan dan kerenah manusia yang lain. Saya yang dhaif ini sejak sekian lamanya amat tersentuh dengan doa Nabi s.a.w

“Ya Haiyyu, Ya Qayyum, dengan rahmatMu daku memohon pertolongan. Baikilah seluruh urusanku, dan janganlah Engkau serahkan diriku ini kepadaku walaupun sekelip mata”(Riwayat al-Nasai, dinilai sahih oleh al-Albani).

Telah saya kongsi ia dengan pembaca dulu. Doa ini sering menjadi teman di sepanjang waktu. Di setiap kesempatan yang mulia, saya lafazkannya. Saya kira saudara pembaca juga demikian. Menjelang tahu baru, moga Allah memberkati umur kita dan membantu segala urusan kita. Kita tidak boleh menongkah masa. Kita tidak boleh menghalang putaran masa. Kita tidak boleh menghentikan masa. Kita tidak boleh keluar dari sistem masa. Kita tidak boleh mengembalikan masa. Namun kita boleh memohon kepada Allah agar masa kita diberkati.

Rujukan: http://drmaza.com/home/?p=910

 

marhaban 1432 Hijrah December 6, 2010

Filed under: Uncategorized — msmwestmidlands @ 1:13 am

Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah.

All Praise to Allah who gave us a week of white snowfall in the UK, particularly in Westmidlands. There were some excitement and amazement of the Creator and its creation, despite the freezing and slippery conditions walking to and fro to uni.

Yesterday, it rained and swept away all the snow and the frost. Today, Allah brings sunshine which clear up the road from whatever left behind, and gives some warmness that we thought we wont ever have  any more in  this winter.

Subhanalllah subhanallah subhanallah.

Perfect enough for us to ponder about the year that has gone and to welcome the new year which has come.

It is good if we pray to Allah The Most Forgiving to sweep off our sins and mistakes from last year, just like what He did using the rain.

and to hope and walk in His Light, through guidance and the example of the first generation and those who followed after them.

biiznillah.

Marhaban 1432 Hijrah.

May we become the muhsinin, the tawwabin, and the muttaqeen for the sake of Allah who gives us this life.

 

Alahai Semut December 1, 2010

Filed under: motivasi,Sharing — msmwestmidlands @ 8:37 am

Salam Alaik.

Entri kali ini hanya ingin menceritakan apa yang pernah terfikir di benak hati ini pada suatu ketika. Sambil-sambil makan ternampak sekumpulan semut,sangat ‘curious’ apa yang mereka buat setiap kali bertemu,ada orang bagi tau mereka bagi  salam dan untuk pastikan mereka tak ‘lost track’,comel kan? Semut pun tau nak bawa sahabat dia ke jalan yang benar,taknak sahabat dia ter’lost track’. Malu pula dengan semut. Betapa istimewanya semut pada pandangan Allah sehingga diberi nama surah iaitu surah An-Naml.

 

Fikiran melayang lebih jauh,tak dapat nak dibayangkan kalau kita sekarang bukan manusia,tapi semut,pokok,meja,rumput dan lain-lain.Hakikatnya,kita sekarang adalah seorang manusia,seorang abid dan seorang khalifah. Wah! Rasa macam ‘special’ je,rasa tak?

 

“Dan(ingatlah) ketika Tuhan-mu berfirman kepada para malaikat,`Aku hendak menjadikan khalifah di bumi…” [Al-Baqarah:30]

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu.” [Al-Dzariyat:56]


Boleh je Allah nak takdirkan kita sebagai makhluk lain pada awal penciptaan kita,tapi Allah pilih kita sebagai manusia so,mesti ada sebab kan dan sebabnya pun dah terjawab dalam ayat-ayat di atas. Kita juga adalah orang-orang yang terpilih sejak awal-awal terjadinya zigot kita lagi di mana hanya 1 sperma daripada berjuta-juta saingannya yang dapat menembusi ovum dan akhirnya Allah izinkan lahirnya kita yang sekarang.

 

“Apakah manusia mengira,dia akan dibiarkan begitu saja(tanpa pertanggungjawaban)?” [Al-Qiyamah:36]


Tapi pelik kan manusia ni? Tak pernah bersyukur dan merasa cukup dengan apa yang kita dapat. Dalam Al-Quran, tak terkira betapa banyaknya kalamullah yang mengangkat darjat manusia berbanding makhluk ciptaan Allah yang lain. Tapi still masih ada antara kita yang mempersoalkan kewujudan kita di dunia ni. Adakah kita masih ragu-ragu dan kurang percaya pada semua firman-firman Allah yang sudah jelas di depan mata? Apa lagi yang kurang? Apa lagi yang kita inginkan?

 

Melihat kegigihan semut bekerja, mencari makanan setiap masa tanpa henti, terdetik di hati untuk bertanya pada mereka,

 

“Wahai semut, apakah kau tidak bosan bekerja tanpa rehat pada setiap masa dan ketika?”


Dan sekiranya semut mampu berkata-kata seperti kita,sudah pasti mereka menjawab dengan yakinnya,

 

“Wahai manusia , aku tidak akan pernah berasa bosan bekerja kerana aku tahu, setiap perbuatanku ini hanyalah kerana Allah. Dan aku tidak melakukan semua ini jika bukan untuk Allah yang telah menciptaku di bumi ini.”


Subhanallah! Maha Suci Allah. Betapa hebatnya ‘si kecil’ ini. Betapa ‘itqan’nya mereka melaksanakan suruhan Allah. Mereka tidak pernah mengungkit, apatah lagi mempersoalkan penciptaan mereka. Andai  itulah takdir mereka, akan diterimanya dengan hati terbuka tanpa penyesalan malah hanya rasa syukur yang mampu dilafazkan. Tapi kita macam tu ke?

 

Alahai semut..sungguh tekun kamu menjalankan tanggungjawabmu. Andainya manusia juga sepertimu, pasti malaikat tersenyum melihatnya.

 

Alahai semut..tidak pernah sekali pun engkau mengeluh atas nasibmu. Alangkah baiknya jika manusia juga begitu, sentiasa redha akan ketentuan Allah.

 

Alahai semut..sungguh erat hubungan sesama kamu semua. Jika manusia mampu melakukannya, amanlah dunia tanpa peperangan dan perbalahan.

 

Alahai semut..kuat sungguh ikatan persaudaraanmu sehingga tidak sanggup kamu membiarkan sahabat-sahabatmu bekerja bersendirian. Pasti indah jika manusia turut mengamalkannya.

 

Alahai semut..manusia sepatutnya malu dengan kedegilan dan keangkuhan mereka jika ingin dibandingkan denganmu. Betapa sucinya engkau, betapa tingginya ketakwaanmu pada Tuhan yang esa.

 

Kalau semut yang kecil tu pun mampu bekerja dengan bersungguh-sungguh, sepatutnya kita yang ada akal ni pun mampu melaksanakan tanggungjawab kita dengan baik. Tak ke macam tu? Bak kata Nabil, ”Lu pikirla sendiri.” Ada mata,melihat..ada telinga, dengar..ada akal,fikir-fikirkan..ada hati,rasa.

 

“Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahannam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati,tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka  memiliki mata(tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah),dan mereka memiliki telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar  (ayat-ayat Allah). Mereka seperti haiwan ternak,bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” [Al-A’raf : 179]

Apa yang penting......?????

 

jalan kaki ke syurga? November 3, 2010

Filed under: motivasi,Sharing — msmwestmidlands @ 3:57 pm

Assalamualaikum.

Nak berkongsi kisah pendek perjalanan seorang abid yg belajar.

semalam semasa nk berjalan balik dr uni nk ke bus stop 61 dpn argos…

memula nk lintas jalan tuh, sy yg sedang leka belek2 hp dan ikut je lah orang lain menyeberangi jalan.

tp bila toleh kanan, rasa mcm nk kena langgar kereta.

rupa2nya lampu hijau and sepatutnya tak boleh lintas lagi.

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di muka bumi ini, nescaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah…”

[ Al An’am:116]

itulah ikut orang lagi. lain kali ikut rules. and the ultimate rules is Allah’s rules.

then the second road to cross, sy simpan dulu hp dlm poket dan tengok lampu isyarat sebagai langkah keselamatan. (always look for sign and guidance. Quran? Prophet’s sunnah?)

ketika itu lampu hijau utk lalulintas. at peak hours, memang banyak kereta dan bus yang meluncur di atas jalan raya.

saya dan semua pejalan kaki berhenti, menunggu sehingga lampu bertukar merah, termasuk mereka yang melintas jalan pertama semasa lampu masih hijau. mereka juga turut menunggu sebelum melintas jalan yang kedua.

“Maka berpalinglah kamu dari mereka, dan tunggulah,

sesungguhnya mereka (orang derhaka) juga menunggu (kedatangan hari Kiamat).

[As Sajdah:30]

saya tersenyum memikirkan ayat tersebut. walaupun ada rasa marah pada mereka yg influence saya ntuk main langgar je lampu isyarat dan  nyaris-nyaris dihentam kereta yang datang, saya bersyukur Allah masih selamatkan saya ntuk menjadi hambaNya yg patuh dan saya tak perlu risau kerana Allah sentiasa adil pada hari pembalasan nanti.

saya pun meneruskan perjalanan ke bus stop. Langkah pulak semakin longlai sebab sudah kepenatan  seharian menghadiri lectures dan workshop.

Tiba di hadapan argos, sebelum melintas jalan lagi saya sudah nampak bus no 61 yang akan membawa saya pulang ke selly oak.

Tengok lampu isyarat merah, saya terus berdesup melintas jalan dan berlari-lari anak ke bus stop tersebut. Alhamdulillah Allah bagi rezeki, saya sempat menaiki bus no 61 yang di aim dari tadi.

teringat kisah pemuda yasin:

“Dan datanglah dari hujung kota, seorang lelaki dengan bergegas-gegas,

lalu berkata: Wahai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu,

dan mereka adalah orang yg mendapat petunjuk”

[Yasin:20,21]

dan juga ayat Allah supaya bersegera:

“Dan bersegeralah kamu kepada keampunan dari Rabbmu

dan kepada syurgaNya yang bidangnya seluas langit dan bumi

yang disediakan untuk orang-orang yg bertakwa.”

[Ali imran:133]

Walaupun kita kena sentiasa ikut rules, tapi jgn pulak jadi lambat dan tidak opportunistic. Berlari, bersusah payah dan bersegeralah.

“Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah

dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadaNya, dan berjihadlah di jalanNya,

supaya kamu beroleh kejayaan.”

[al maidah:35]

Moga kita berjaya di akhirat dan dunia ini medannya.

(ada jugak pengalaman, kejar bus terakhir tapi tak sempat. waktu tu mmg terfikir mcm manelah kalau itu bus terakhir yg nk bawak ke syurga, dan sy terlepas dan dah takde cara lain dah nk ke sana. takuttt]

 

Syamail Muhammad saw. September 17, 2010

Filed under: Book Review — msmwestmidlands @ 1:56 am

karyaImam al-Tirmizi

Alhamdulillah,kita masih diberi peluang untuk bernafas dan menjalani kehidupan kita di bumi Allah.Sekarang tibalah fasa yang digeruni sedikit-sedikit oleh kita semua memandangkan sekarang adalah fasa mempackingkan diri untuk pulang ke UK dengan semangat yang semakin berkobar,matlamat yang lebih besar,tanggungjawab yang lebih berat dan yang paling penting niat di hati hanya kerana Allah swt.

Apa yang menariknya buku di atas?^—–scroll up….

Apa yang menariknya buku ini ialah,buku ini mengenai kehidupan peribadi Rasulullah dari segi lahir dan batin,sebanyak 56 keperibadian Baginda dimuatkan dalam buku ini.Buku ini menceritakan peribadi baginda melalui 5 aspek iaitu,

FIZIKAL-Tanda kenabian,rambut,uban,celak,pakaian,aksesori,kasut,sandal dan sebagainya.

PERILAKU-cara berjalan,duduk.bersandar,tidur,makan,minum dan buah-buahan.

IBADAH-Wuduk,doa,wangi-wangian,puasa dan membaca Quran.

PERHUBUNGAN DAN AKHLAK-berbicara,ketawa,bergurau dan bersyair

PENGHIDUPAN-Mana-nama Rasulullah,penghidupan,usia,kewafatan,warisan dan mimpi melihat Rasulullah.

Banyak yang diceritakan dalam buku ini melalui hadis-hadis yang diriwayatkan oleh insan2 yang dekat dengan Baginda antaranya Anas b Malik(khadam baginda),Ummu Salamah,Aisyah r.a dan ramai lagi.

sedikit bingkisan hadis mengenai keperibadian baginda yang saya ambil secara rawak,(sebab semua menarik).:)

tawa Rasulullah

Abdullah bin HArits bin Jaza’ r.a meriwayatkan.

maksudnya:”saya tidak pernah melihat seseorang yang lebih tersenyum daripada Rasulullah saw”.

(riwayat Tirmidzi dan Ahmad)

Aisyah meriwayatkan,

maksudnya:”sebisa mungkin,Rasulullah mendahulukan anggota sebelah kanan,ketika menyisir rambut,menggunakan sandal dan ketika bersuci”

(riwayat Tirmidzi,Bukhari,Muslim,Abu DAwud.Nasa’i dan Ahmad)

Jabir bin Abdullah meriwayatkan,

maksudnya:”NAbi saw.mengenakan cincin di jari tangan kanan beliau”

(riwayat Tirmidzi dan Abu Syaikh)

Apa yang menariknya buku ini ialah,buku ini sesuai untuk semua lapisan umur dan sesuai untuk semua peringkat masyarakat.Buku ini sesuai dijadikan bahan tazkirah pendek,salah satu hidangan ringan ketika minum petang dan topik perbincangan di waktu lapang:).Bagi yang mempunyai anak,buku ini sesuai untuk menggantikan buku cinderella,snow white sebagai bedtime story,insyaAllah,memupuk anak2 kecil mencintai Baginda bak kata pepatah melayu,”melentur buluh biarlah dari rebungnya”.Bagi yang mempunyai sahabat yang kurang rajin membaca(rasanya kita semua rajin kan,he he),bolehla membacakan salah satu hadis untuk diperdengarkan oleh sahabat tersebut,sebelum beliau tidur juga.

Nampaklah sedikit comel buku ini .

Secara kesimpulannya,buku ini memang diwujudkan di muka bumi ini untuk kita mendekatkan diri kepada Rasulullah saw yang kita rasa semakin jauh kerana kita tidak dapat membayangkan keperibadian baginda.Disamping itu juga,buku ini boleh menjadi contoh teladan pada kita dan akhir sekali menjadi penawar rindu pada kita semua selaku umat akhir zaman yang sangat-sangat ingin mencintai Rasulullah saw.Sebelum berakhir,buku ini boleh didapati di Malaysia sebelum pulang ke UK.sooob,di kedai buku berdekatan,keluaran telaga biru.:)

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.